Kereta Gantung (Sky Lift) TMII - Keliling Indonesia Dengan Singkat


Kereta Gantung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) saat ini jadi salah satu kereta gantung yang ada di Indonesia selain kereta gantung yang ada di Taman Impian Jaya Ancol, kereta gantung yang ada di Pulau Kumala - Kalimantan Timur, dan kalau gak salah di Taman Safari Indonesia juga ada kereta gantung.

Saya lupa kapan pertama dan terakhir kali Saya naik kereta gantung di TMII ini, yang pasti pas kemarin ketika Saya ke TMII timbulah hasrat buat kembali naik kereta gantung dan melihat lagi keindahan miniatur Indonesia dari atas. Apalagi Saya naiknya sore hari jadi bisa sekalian liat sunset.

Buat yang takut ketinggian mungkin bakalan ngerasa ngeri sih naik ini, Pasti udah ngebayangin hal-hal yang gak-gak, tapi percaya deh sama Saya, cobain! wahana ini aman kok. InshaaAllah.

Tiket Kereta Gantung / Sky Lift
Saya datang ke TMII sekitar bulan Mei 2017 dan harga tiket naik kereta gantung di TMII pada saat itu sebesar Rp. 50.000/orang. Mahal gak sih? Kayanya sih gak ya, demi keamanan dan untuk menjaga kualitas yang ada. Satu gondola/kereta gantung bisa menampung 4 orang dewasa, tapi di lihat lagi ya beban berat badannya buat menjaga keamanan.

Tidak ada pelayanan khusus atau penjelasan keamanan yang di berikan pada pengunjung, termasuk tidak adanya penjelasan tertulis ataupun lisan berapa beban maksimal yang bisa di tampung pada tiap gondola/kereta gantung. Tapi tenang aja, ada petugas yang selalu mengatur untuk menjaga keamanan.

Setelah membeli tiket, kita akan menaiki tangga melingkar sampai ke tempat peluncuran kereta gantung. Meskipun tangganya landai dan nyaman untuk di lalui tapi lumayan bikin pegel.

Tidak perlu antri he he
Saat Saya sampai di atas kebetulan kosong gak ada yang mengantri jadi Saya langsung masuk ke dalam kereta gantung mengikuti arahan petugas. Tarik nafas ketika kereta gantung mulai berjalan karena akan terasa sedikit guncangan. Walaupun awalnya ngeri-ngeri sedap, tapi setelah berjalan rasanya asyik juga.

Apa saja yang bisa kita lihat dari atas sana?

Gereja dan Bianglala
Tentu saja kita bisa melihat miniatur keindahan Indonesia yang menakjubkan, melihat anjungan daerah berarsitektur tradisional, melihat danau yang menggambarkan miniaturnya Indonesia sebagai negara kepulauan, melihat rumah ibadah agama-agama yang ada di Indonesia dan masih banyak lagi yang bisa kita lihat.

Gereja dan Masjid Berdampingan
Melihat itu semua, rasa bangga dan cinta di dada Saya terhadap Indonesia makin bertambah. Bagaimana tidak, Indonesia dengan berjuta keberagamannya itu tetap bersatu dan rukun. Semoga tidak ada lagi yang berniat buat memecah belah bangsa ini.

Miniatur Kepulauan Indonesia
Betewe, naik kereta gantung ini juga sangat efektif loh buat kamu yang mempunyai waktu terbatas tapi pengen melihat semua yang ada di Taman Mini ini. Waktu terbaik untuk menaiki kereta gantung ini tentu saja saat cuaca cerah, tapi cobain deh naiknya sore hari sambil melihat matahari mulai terbenam.

Semoga dengan naik kereta gantung ini Saya jadi tambah semangat buat keliling Indonesia beneran, gak cuma keliling di miniaturnya aja.he he he.. Semogaaaaaaaaaaa....

Doc Pribadi

Puisi Pendakian : Menantang Diri

Ada kebersamaan di sini
Ada kebebasan di sini
Ada perjuangan mencapai sini
Ada tekat kuat dalam diri ini

Bukan seberapa tinggi puncaknya
Bukan pula seberapa berat medan tanjaknya
Bukan tentang apa, bukan soal siapa
Ini tentang Aku

Aku yang memberanikan diriku
Aku yang coba menantang diriku
Tentang aku yang takjub 
Tentang aku yang tak kuasa sembunyi dari-Mu
Dimanapun....


*Puisi yang Saya tulis ketika melakukan pendakian pertama kali ke Gunung Gede 2958 Mdpl

Explore Masjid - Bukan Traveling Biasa!


Jadi, kemarin, tepatnya hari Minggu tanggal 28 Mei 2017 Saya berkesempatan jalan bareng lagi sama temen-temen dari Komunitas Backpacker Karawang. Tapi ada yang beda banget sih dari perjalanan kemarin itu.

Apa hayoooo?

Pertama, Traveling kemarin itu di lakukan saat bulan Ramadhan, dimana yang pada umumnya saat bulan puasa justru banyak yang bermalas-malasan buat aktivitas, apalagi buat traveling yang sudah jelas makan waktu dan juga tenaga, eh tapi Backpacker Karawang malah ngajak traveling. Kedua, tujuannya berbeda dari yang udah-udah. biasanya ke alam seperti pantai, gunung, atau city tour, itu sih udah basi yeeee. tujuan yang ini beda banget. kemarin kami malah nyangkut ke masjid yang seharusnya jadi tempat ibadah, ini kok malah jadi tempat tujuan traveling? Lalu perbedaan yang ketiga dari traveling Saya yang biasanya adalah tidak adanya cemilan-cemilan manja buat ngisi perut. yaialah, secara lagi puasa. hiks hiks

Tapi biar bagaimanapun, sejujurnya Saya sih sangat senang dengan perjalanan kemarin. Perjalanan yang di namai "Explore Masjid" itu menyadarkan Saya akan banyak hal. Tempat yang di kunjungi juga keren-keren, gak bikin bosen. Keren dari segi arsitektur maupun sejarahnya.

Masjid mana saja yang Saya kunjungi kemarin? Ketiga masjid itu adalah Masjid Jami' Kali pasir, Masjid 1000 Pintu dan Masjid Al-adzom. Saya akan coba cerita sedikit dan apa yang bisa Saya explore dari ketiga masjid tersebut ya. Selamat membaca!

Masjid Jami' Kali Pasir


Masjid Jami' Kali Pasir
Jika kamu melewati kali pasir dan menyusuri bantaran sungai Cisadane, di sebelah kanan sebrang jalan kamu akan melihat sebuah masjid dengan menaranya yang mencolok yang letaknya sebelum klenteng Boen Tek Bio. Masjid itu tak lain dan tak bukan adalah Masjid Kali Pasir dengan bangunan bergaya Tionghoa, Arab dan Eropa.

Saya beruntung bisa berkunjung dan sedikit banyak mendengar sejarah yang ada di Masjid Kali Pasir ini yang Saya kira mungkin banyak dari masyarakat tangerang sendiri belum tahu sejarah dan keberadaan masjid ini. Padahal Masjid ini di bangun sejak tahun 1600an oleh Tumenggung Pamit Wijaya yang saat itu sedang menyebarkan syariat Islam. Selain di gunakan sebagai tempat ibadah, Masjid Kali Pasir ini menjadi saksi perjuangan Masyarakat Indonesia melawan penjajah. Selain itu menjadi tempat akulturasi budaya masyarakat lokal dengan tiongkok.
Menara Masjid Jami' Kali Pasir
Di sekitar Masjid kita bisa melihat banyak sekali warga Tionghoa yang tinggal di dekat Masjid, itu karena memang lokasi Masjid ini berada di sekitar pemukiman Tionghoa. Menarik sekali, apalagi di dekat Masjid kita bisa melihat Klenteng, kehidupan di sana tetap aman dan nyaman. sebuah contoh kerukunan umat beragama yang baik dengan saling menghargai dan tidak menyakiti satu sama lainnya.

Makam di depan Masjid
Mengunjungi Masjid ini, tidak hanya mendapatkan cerita sejarah tapi kita juga bisa melihat secara langsung bukti-bukti yang ada seperti empat tiang penyanggah masjid yang sejak awal di bangun hingga saat ini masih berdiri meski sudah mulai keropos, dan ada juga kubah kecil bermotif China yang katanya berbentuk seperti sebuah mahkota. Ada juga menara masjid yang cukup jadi perhatian mata ketika di lihat dari jauh. Dengan kita berkunjung ke sini, itu sama saja kita ikut andil dalam melestarikan peninggalan yang kaya akan sejarah ini.

Masjid 1000 Pintu

Masjid 1000 Pintu
Mempunyai nama asli Masjid Nurul Yaqin, berlokasi di Kampung Bayur, Priuk Jaya, Jati Uwung, Kabupaten Tangerang, Banten. Masjid 1000 Pintu jadi salah satu daya tarik utama untuk wisata religi di kota Tangerang - Banten ini. Lokasinya cukup  terjangkau kok karena dekat dengan pusat kota Tangerang. Masjid ini dinamai Pintu 1000 karena hingga saat ini belum ada yang tahu berapa persisnya jumlah pintu yang ada di masjid tersebut, termasuk pengurus masjidnya pun belum tau.


Tempat sholat Masjid
Melihat gaya arsitekturnya terlihat jelas dan sangat terasa nuansa arabnya. ini karena pendiri masjidnya seorang keturunan Arab bernama Al-faqir yang di dirikan sekitar tahun 1976. Selain bernuansa Arab, arsitekturnya juga bernuansa Maya dan Aztec. Unik, menarik dan indah. Padahal rancangan masjid ini tidak menggunakan arsitek loh alias asal bangun aja. Hhhmm..Ngasal aja segini bagus ya apalagi ada arsitek yang menyusun.


Apa sih yang menarik lagi dari Masjid 1000 Pintu ini? Tentu ruang labirinnya dong. Kita akan di tuntun sama seorang guide yang kebetulan seorang Ustad, tapi sebelum masuk, kita akan di intruksikan untuk mempersiapkan senter oleh guide-nya karena memang ketika kita masuk kedalam labirin gak ada cahaya sedikitpun kecuali cahaya dari lampu senter kita. Kebetulan Saya gak mempersiapkan senter, jadi Saya menggunakan lampu blitz yang ada di hape Saya yang kebetulan bisa juga di fungsikan sebagai senter. 

Melewati labirin yang sempit, dan becek, di tambah harus membungkuk karena atapnya rendah, kita akan di tuntun masuk kedalam sebuah ruangan yang cukup luas, disanalah terdapat sebuah tasbih super besar terbuat dari kayu. ruangan tersebut dinamai makam tasbih yang konon menjadi tempat Al-faqir berdzikir.
Makam Tasbih
Lampu di matikan, cahaya dari senterpun akan di intruksikan untuk dimatikan. gak ada cahaya sama sekali dalam ruangan itu. Benar-benar gelap dan cukup pengat. Saya sedikit merinding karena saat gak ada cahaya sama sekali bermunculanlah pikiran-pikiran negatif dari otak Saya seperti "Takut bangunannya runtuh euy" atau "kalo muncul setan ngeri juga nih" atau pikiran Saya yang lebih ekstrim adalah "Dalam keadaan gelap gini tiba-tiba ada yang narik gue dan gue di culik" duuuuh..  

Lalu seorang Ustadz itu akan menuntun kita untuk beristighfar, berdzikir, berdo'a, mengingatkan kita akan dosa, akan kematian, mengingatkan kita akan keluarga yang sudah wafat. dan seterusnya hanya suara sesenggukan dan tangisan yang terdengar sampai akhirnya lampu di hidupkan dan timbulah perasaan lega karena bersyukur masih bisa melihat cahaya.

Sungguh, simulasi kematian yang bikin merinding....

Masjid Raya Al-adzom



Dalam Masjid
Masjid Raya Al-adzom yang berada tepat di depan kantor pemerintahan tangerang ini menjadi masjid terbesar yang ada di tangerang, bahkan, untuk kubahnya menjadi masjid dengan salah satu kubah terbesar di dunia. Masjid ini bisa menampung sampai 15.000 jama'ah. WOW! yang menakjubkan dan menjadi daya tarik adalah kubahnya. Jika di perhatikan, kubah masjid yang berada di tengah itu gak menggunakan tiang sebagai penopangnya tapi justru di topang oleh empat kubah lainnya yang berukuran lebih kecil dan berbentuk setengah lingkaran .


Masjid Al-adzom dari luar
Ini kali kedua Saya mengunjungi masjid ini dan selalu kagum dengan arsitektur dan kemegahannya. Apalagi jika di lihat dari dalam, kita bisa menikmati keindahan masjid yang bernuansa emas dan di hiasi oleh lukisan kaligrafi. Didalam masjid juga ada semacam museum kecil atau Galery Islam yang isinya kebanyakan lukisan kaligrafi dan ornamen Islam. ada juga di sediakan buku bacaan Islam yang bisa kita pinjam dan kita baca di sana.


Galery Islam di dalam Masjid

#####


Dari kunjungan ketiga masjid tersebut Saya mendapati banyak sekali ilmu dan tentunya menambah kesadaran Saya untuk tidak lupa beribadah dan tidak lalai untuk terus memperbaiki diri. Traveling tidak melulu soal alam yang indah, pasir putih yang halus, gunung yang tinggi, lautan awan yang memesona, lampu-lampu kota metropolitan yang megah, tapi, traveling adalah sebuah perjalanan dan dalam setiap perjalanan kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang kita singgahi.

Cobalah untuk mengexplore lebih banyak, terlebih, explore diri kita tentang apa-apa yang sudah kita lakukan selama ini.

Mt Prau (2.565 Mdpl) - Tenda Roboh, Gas Beracun, Sampai Tragedi di Sengat Tawon.


Ini pengalaman cukup pahit buat Saya dan teman-teman waktu itu. Di saat hujan sedang turun, turunnya banyak dan ramean, padahal waktu itu bulai mei yang seharusnya sudah gak musim hujan. Beberapa hari sebelum berangkat emang udah was-was banget sih, bakalan hujan gak ya, dan ternyata setelah sampai di wonosobo langsung di sambut hujan. Kamu harus tahu kalo udara di Wonosobo waktu itu yang sudah sejuk jadi makin sejuk. Nikmat sih tapi aga kepikiran juga soalnya mau mendaki gunung, takut licin-licin manja gitu lah jalur pendakiannya.

Saya dan teman-teman langsung menuju pos pendakian dengan berlari-lari manja karena takut basah oleh air hujan. Seperti pendakian-pendakian sebelumnya, sampai di pos pendakian/basecamp, Saya dan teman-teman langsung prepare untuk packing ulang bawaan di keril kami masing-masing. Saya menyempatkan diri untuk beli jas hujan sekali pakai seharga RP. 10.000 di warung dekat Basecamp pendakian. Jas hujan sekali pakai yang kurang dari sejam Saya pakai sudah robek di bagian celananya. ha ha ha bahannya tipis banget.

Saya memilih jalur Patak Banteng karena "katanya" lebih singkat dari jalur Dieng, lebih singkat sihg tapi terjal. Setelah Saya alami sendiri memang benar sih treknya cukup terjal dan sempit, waktu itu pendaki yang naik banyak banget, sampe antri-antri gituh. Duh ileh, ini bukan kaya mendaki gunung tapi berasa lagi dimana gitu, naik gunung sekarang udah rame banget yah. Saking ramenya pendaki yang naik waktu itu, Saya sampe gak kebagian lahan buat mendirikan tendaloh. Sempet panik juga karena hujan dan langit mulai gelap, di tambah udaranya dingin dan anginnya juga kenceng banget.

Setelah mencari kesana-kesini, dapet dong lahan untuk mendirikan tenda, cukup untuk 2 tunda, yang satu tenda sih aman tapi sialnya yang satu tenda lagi kebagian di dataran miring, Saya gak tahu kemiringannya berapa derajat tapi yang pasti setelah tenda berdiri dan kami masuk kedalam, itu posisinya gak enak banget. saat posisi tiduran merosot terus. Di dalam tenda yang miring itu di isi empat orang, sedangkan yang satu tenda lagi di isi 3 orang.

Hujan yang deras, angin yang kencang, udara yang udah jelas dingin banget, itu semua di perburuk dengan kondisi tenda yang single layer, yang artinya tenda yang Saya bawa ini gak cocok untuk kondisi seperti itu walaupun udah di tambah flysheet tapi tetep aja rembes dan udara dingin menusuk.

Muka kucel kurang tidur
Karena kelelahan dan ngantuk parah, lelah bukan karena trek pendakiannya yang berat tapi karena perjalanan yang cukup jauh dari Karawang dan kurang tidur jadi Saya gampang lelah. Waktu itu Saya gak sempet atau lebih tepatnya gak kepikiran ya buat bikin jalur air di sekitar tenda buat menghindari air yang turun dari ketinggian, soalnya kan tenda Saya berada di kemiringan jadi rawan kan dilalui alir. Dan kamu tahu apa yang terjadi saudara-saudara? Air yang terjun pelan-pelan dari ketinggian itu menumpuk, eh apa ya bahasanya? jadi intinya tuh tenda saya menghalangi air lewat sehingga tenda saya jadi seperti bendungan. nah loh...

Dari dalam tenda yang kebetulan Saya tidur di pojok, persis di samping air yang membendung, Saya kok merasakan tenda makin lama menyempit dan miring, Saya akhirnya terbangun, setelah Saya raba ternyata tenda Saya di kepung air. Saya bangunin teman-teman yang lain lalu kami keluar dari tenda, setelah keluar air yang banyak itu langsung menghantam tenda kami hingga berserakan gak karuan, Saya sempat menyelamatkan tas kecil, kamera, dompet dan powerbank, tapi keril dan barang lainnya ada di dalam tenda dan semuanya BASAH!

Prau waktu itu. cuacanya sedang tidak bagus, hujan masih turun dan udara dinginnya parah. Kami semua langsung masuk tenda yang satunya lagi. yap, tenda dengan kapasitas 4 orang itu kami isi dengan 7 orang. jangan tanya deh gimana kondisinya di dalam tenda. Sambil menahan dingin, Saya juga merasa sedih karena ngebayangin semua barang-barang di tenda basah. Saya juga khawatir karena ada satu powerbank Saya yang tertinggal. Serba salah banget, mau beresin juga percuma karena emang semuanya udah basah, di tambah dinginnya tuh ekstrim, jadi kami biarkan aja sampe subuh.

Di dalam tenda yang sempit-sempitan itu, kami saling menghibur satu sama lain supaya gak begitu terasa menderita yes. he he he. Lalu ada momen dimana ketika kami semua sedang bercerita di dalam tenda, terciumlah bau busuk di dalam tenda. "Ini siapa yang kentut? anjir bau banget" Sungkar, salah satu teman kami dengan nada penuh kesal berteriak. Semua kompak menciaum aroma yang sama, gas beracun yang bau banget itu entah punya siapa. Disaat itu juga Saya yang posisinya dekat dengan pintu tenda langsung membuka resleting tenda agar dapat udara segar, supaya kami semua gak mabok dan gak pingsan di dalam tenda. Perjalanan yang sudah lama itu, sampai detik dimana Saya menulis cerita ini belum ada yang mengaku siapa yang kentut waktu itu, belum ada yang bertanggung jawab siapakah yang bikin kami semua di dalam tenda mual-mual. Kamu bisa bayangkan dong kondisi kami di dalem tenda yang seharusnya di isi 4 orang tapi kami isi 7 orang, dan di dalam tenda yang sempit-sempitan itu muncul bau kentut busuk. heuh!

Oh iya, mau tau gimana posisi Saya dan teman-teman Saya agar bisa tidur di dalam tenda? dengan ruang yang sempit tapi orang yang ada di dalam tenda melebihi kapasitas, kami berusaha sebaik mungkin untuk mengatur posisi agar semuanya kebagian tempat, tapi pada kenyataannya sulit. Dengan ukuran 310 x 220 x 160 cm itu, dan setelah atur sana atur sini, maka kami gak menemukan posisi tidur yang benar-benar nyaman buat semua. yaialah.. akhirnya dengan posisi satu orang di tengan dan yang lainnya mengelilingi dengan posisi duduk sambil kepala bertumpu di pundak yang satunya lagi membuat ringkaran, barulah kami bisa tidur dengan terpaksa. 

Saya gak benar-benar bisa tidur dengan nyenyak dalam keadaan dan posisi seperti itu, hanya beberapa jam tapi menunggu subuh terasa lama banget. Setelah subuh datang dan Saya merasa senang, Saya keluar tenda dan melihat posisi tenda Kami yang tadi malam di terjang air karena kebodohan kami sendiri mendirikan tenda di tempat yang tidak benar. Kondisi tenda yang roboh itu benar-benar kacau, gak ada yang bisa di selamatkan, semuanya basah, termasuk keril. Saya coba bongkar dan merapikan semuanya sambil menahan dingin.


Berharap matahari pagi itu muncul dengan terang dan terik, kenyataannya cuma ada kabut tebal sepanjang pagi. Boro-boro atuh bisa jemur keril dan barang lainnya yang basah, melihat keindahan Gunung Prau aja gak bisa karena di tutup kabut. nasib.....

Sekitar jam 8 pagi setelah melakukan perdebatan yang panjang dan musyawarah ketat lantaran bingung mau turun lewat jalur Patak Banteng seperti naik kemarin atau turun lewat jalur yang berbeda, yaitu jalur Dieng. Saya termasuk orang yang menyuarakan dengan keras kalo baiknya kami turun lewat jalur Dieng aja, feeling aja cuacanya akan bagus dan akan melihat keindahan lain. Setelah Saya yakini, akhirnya semua sepakat turun lewat dieng.
Awal-awal melangkahkan kaki untuk turun kami sempat melihat pemandangan Gunung Prau yang tadinya tertutup kabut berubah menjadi cerah, tapi cuma sebentar, setelahnya kabut datang dan pergi sesuka hati. Setiap kabut ilang di situlah kami harus cepat-cepat mengambil momen untuk foto sebelum kabutnya nutupin keindahan lagi. rempong dan berebut.

Trek ajlur pendakian lewat Dieng emang jauh lebih datar dan nyantai, yang bikin berat adalah tas keril yang basah beserta isinya. Jadi Saya pribadi lumayan menanggung beban keril yang berat itu.

Selama perjalanan turun itu ada kejadian yang cukup menegangkan tapi juga bikin ngakak terbahak-bahak. Kalau gak salah kejadiannya setelah tiang pemacar di jalur Dieng. Tiba-tiba kepala teman Saya namanya Prapti di singgahi tawon yang masuk kedalam rambutnya Prapti. Dia panik, lalu teman Saya satu lagi namanya Ibnu langsung nolongin Prapti dengan cara mengambil tawon yang ada di rambutnya Prapti, eh tangannya Ibnu di sengat. ha ha ha. Saya ketawa ngakak ngeliat adegan itu, ngeliat ekspresinya Prapti dan Ibnu. "Ini tawonnya nyengat kepal gue" teriak Prapti. Untunglah teman Saya yang satu lagi punya ide buat ngambil tawon dari rambutnya Prapti tapi menggunakan sarung tangan tebal. Alhamdulillah tawonnya ketangkep dan terpaksa di matiin karena khawatir membahayakan lagi.


Tawa bahagia, kesel dan sedih mewarnai pendakian Saya kali ini. Banyak pelajaran yang Saya dapat sebagai pendaki baru waktu itu. Gak cuma pelajaran untuk memilih tenda yang tepat dan kualitas bagus, tapi juga pelajaran untuk selalu meletakkan pakaian atau barang dengan plastik atau trashbag ketika dimasukan kedalam keril, hal kecil tapi sering di abaikan. selain itu, Saya juga jadi sadar kalo membuat saluran air itu juga penting ketika mendirikan tenda. Dan lagi harus mendirikan tenda di lahan yang tepat.

Selesai pendakian dan jalan-jalan santai di Dieng, Saya pulang dengan pakaian yang tidak benar-benar kering. Pulang ke Karawang dengan ketidaknyamanan karena makin lama bau pakaian basah yang gak sedap muncul dan mengganggu. hihihihi